Krisis, dari konspirasinya, sampai filosofinya

Dunia geopolitik dan perdagangan internasional saat ini sedang dibuat gerah oleh pemerintah Amerika Serikat yang memberlakukan tarif untuk barang impor kepada hampir semua mitra dagang mereka. Kebijakan ini dikhawatirkan akan memperlambat pertumbuhan ekonomi global yang bahkan sebelum ada ini, sudah memperlihatkan tanda-tanda ketidakpastian. Efeknya langsung terlihat, bursa-bursa di AS langsung rontok (Dow Jones -5,50%, S&P500 -5,97%, dan Nasdaq -5,82%). Saat tulisan ini dibuat, bursa saham Indonesia sedang libur, kita lihat saja nanti dampaknya.

Kebijakan tarif ini memang kontroversial. Selain karena dasar pengenaan tarif yang dipertanyakan (Pemerintah AS berpatokan kepada trade imbalance, bukannya trade barrier), juga karena alasan yang kurang masuk akal (mereka beranggapan pengenaan tarif akan merangsang pertumbuhan manufaktur dalam negeri, padahal ekosistem industri manufaktur itu sendiri tidak dapat dibangun dalam semalam). Namun, ada hal kecil menggelitik lain yang mau dibahas oleh tulisan ini.

Di beberapa sudut dalam beberapa platform media sosial, ada opini (atau bisa juga disebut teori konspirasi) yang tengah bergulir kencang mengenai kenapa ada kebijakan konyol ini. Jadi intinya: Presiden Trump memang sengaja memberlakukan peraturan tarif ini agar ekonomi semakin melambat, timbul volatilitas pasar, sehingga peluang terjadinya krisis ekonomi & finansial semakin besar. Adanya krisis akan memaksa Federal Reserve untuk menurunkan Fed rate yang kemudian akan menurunkan beban bunga utang Pemerintah AS. Lalu, dengan adanya krisis, maka para elit dapat mengakumulasi aset-aset yang jatuh dengan harga yang murah. Too good to be true?

Teori di atas memang sekilas masuk akal. Naomi Klein dalam The Shock Doctrine berpendapat, krisis secara umum (termasuk karena bencana, perang, maupun krisis finansial) seringkali dieksploitasi untuk membuat kebijakan ekonomi yang radikal yang dapat menguntungkan beberapa elit. Argumen ini mendukung Financial Instability Hypothesis milik Hyman Minsky bahwa instabilitas keuangan merupakan sebuah alat untuk konsentrasi kekayaan bagi segelintir kelompok. Bagi pembaca yang pernah melewati krisis moneter 98 mungkin sangat relate dengan komentar Stiglitz di Globalization and Its Discontents bahwa krisis ekonomi di suatu negara terkadang bisa dijadikan alasan oleh IMF untuk menginstruksikan pemotongan anggaran maupun peningkatan pajak yang menguntungkan golongan tertentu.

Teori di atas pun didukung oleh beberapa kejadian historis yang pernah ada, seperti:

  • Krisis finansial 2008, di mana banyak investor besar yang membeli aset-aset yang jatuh dengan harga yang murah setelah market crash,
  • Reagan’s Deficit Strategy tahun 1980, beberapa orang berpendapat bahwa Presiden Reagan sengaja menciptakan defisit untuk mendorong pemotongan anggaran pada program-program sosial,
  • Manajemen krisis Rusia, Presiden Putin menggunakan krisis dan sanksi ekonomi untuk mengkonsolidasikan kontrol pemerintah,
  • Perampasan emas oleh FDR tahun 1933, Presiden Roosevelt melakukan devaluasi dolar dengan merampas emas pada masa Great Depression.

Beberapa ide yang pernah dicetuskan mirip-mirip dengan teori di atas:

  • Friedman: para pemerintah mengeksploitas krisis untuk mengimplementasikan kebijakan-kebijakan pasar bebas yang radikal (dalam konteks kebijakan tarif, justru krisis terjadi karena pasar bebas yang dihambat),
  • Piketty dalam Capital in the 21st Century: perang dan krisis dapat meredistribusi kekayan dan mereset ketimpangan ekonomi (dalam konteks teori konspirasi ini, justru krisis dapat melebarkan ketimpangan yang ada),
  • Carl Schmitt dalam The Concept of the Political: para politisi merekayasa dan mengeksploitasi krisis sebagai pembenaran untuk kebijakan-kebijakan ekstrim,
  • Graeber dalam Debt The First 5000 Years: krisis utang memungkinkan pemerintah dan bank untuk melimpahkan beban-bebannya ke masyarakat.

Namun, tentu saja teori di atas bukan tanpa cacat. Jika krisis memang sengaja dibuat ini akan menjadi bola liar yang sulit dikendalikan, dan bukan tidak mungkin berbalik menjadi senjata makan tuan. Hal ini akan menghancurkan reputasi Trump dan Partai Republik yang mengusungnya. Kemudian mengenai independensi The Fed. Memang The Fed mau tidak mau harus bereaksi ketika ada krisis, namun apakah dijamin akan menurunkan Fed rate hanya karena Trump menginginkan itu? Terakhir, mari kita gunakan prinsip Occam’s Razor untuk menjelaskan motif kebijakan tarif ini: daripada berpikir soal konspirasi, grand scheme, atau semacamnya, kenapa tidak beripikir kalau peraturan ini memang dibuat dengan ceroboh dan ugal-ugalan?

Teori konsipirasi di atas memang sekilas meyakinkan, tapi tidak dapat difalsifikasi. Bagaimana kita tahu bahwa sebuah krisis itu sengaja diciptakan atau memang karena akibat dari buruknya kebijakan? Sejarah memang mencatat beberapa krisis dapat dieksploitasi oleh pemerintah maupun kalangan elit, namun membuktikan bahwa merekalah yang sengaja menciptakan krisis merupakan hal yang sulit. Lagipula, jika Trump mau menciptakan krisis untuk menurunkan Fed rate, ada beberapa opsi yang lebih mudah untuk menekan The Fed, seperti menciptakan narasi publik, mengubah peraturan (yang tidak memicu krisis), ataupun pergantian pejabat The Fed itu sendiri.

Bagaimana kalau menurut Anda?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *