adein.dev

Ringkasan Situasi Makro, November 2024

Jika portofolio investasi Anda memiliki exposure di saham-saham IHSG, pasti akan paham betapa beratnya kondisi pasar di bulan November kemarin. Jika saya bisa bilang, situasi ini adalah muara dari aliran-aliran sentimen negatif yang kerap timbul satu persatu di bulan lalu, bulan sebelumnya, dan sebelumnya lagi, dan seterusnya. Akumulasi kesialan. A series of unfortunate events!

Ada baiknya kita mengawali dari BI rate sebagai titik awal perjalanan kita yang suram ini. Jadi, akhir November lalu Rapat Dewan Gubernur BI menetapkan untuk mempertahankan BI rate di angka 6%. Ini sebenarnya bertentangan dengan konsensus yang memprediksi bahwa BI akan menurunkan rate ke angka 5,75%. But to be honest, langkah BI mempertahankan rate di angka tersebut bisa dimaklumi. Kinerja Rupiah yang loyo terhadap USD di bulan lalu, serta timbulnya inflasi–alih-alih deflasi seperti yang terjadi di periode sebelumnya–turut memberi andil keputusan tersebut. Namun, harapan muncul ketika performa Rupiah semakin stabil belakangan ini, sehingga ada harapan bahwa BI rate akan diturunkan di Desember nanti.

Salah satu biang kerok mengapa Rupiah loyo sepertinya bisa kita sematkan pada kenaikan US Treasury. Di bulan kemarin, US Treasury baik untuk 2 & 10 tahun terus mengalami kenaikan. Di awal bulan, US Treasury untuk tenor 2 tahun memiliki yield sebesar 4,26% dan 4,34% di akhir bulan. Sementara untuk tenor 10 tahun, masing-masing di angka 4,30% dan 4,38%. Di periode yang sama, yield Surat Utang Negara (SUN) berada pada angka 6,75% dan 6,98%. Salah satu dampak langsung kenaikan yield US Treasury ini adalah timbulnya capital outflow dari Indonesia (kita akan bahas ini sebentar lagi). Terus, dampak dari kenaikan yield SUN ini adalah ruang fiskal pemerintah yang semakin sempit (dan kita juga akan bahas ini nanti).

Nah, capital outflow inilah yang menyebabkan IHSG terus menerus mengalami tekanan jual dari investor asing. Apalagi di AS sana, Donald Trump terpilih lagi jadi presiden. Setidaknya ada 2 hal yang bisa dihipotesiskan dari momen tersebut. Pelaku pasar di AS menyambut gembira kemenangan Trump sebagai presiden karena dia dikenal sebagai presiden yang memiliki kebijakan-kebijakan yang pro terhadap dunia bisnis Maka tidak heran jika S&P 500 langsung melaju kencang begitu kemenangan Trump diumumkan. Selain itu, dia juga bersikap proteksionis dengan keputusan-keputusan perang tarifnya ke negara-negara yang sekiranya dapat merugikan perdagangan AS.

Dan benar saja, di minggu kedua November selepas kemenangan Trump di minggu pertama, sejumlah Rp4,6 triliun lari dari Indonesia. Di minggu berikutnya, ada Rp4,2 triliun yang kabur, dan minggu berikutnya ada Rp4,5 triliun. Bayangkan, dari total Rp18,2 triliun dana investor asing yang keluar di tahun ini, dua pertiganya terjadi di 3 minggu saja! 😣

Jadi ya jangan heran kalau kita melewati bulan November kemarin dengan berdarah-darah. Dan sepertinya, hal ini tidak hanya terjadi di bulan kemarin saja. Bulan Desember bahkan tahun depan pun kelihatannya kondisi bearish ini masih belum dapat terlepas dari IHSG. Peluang Trump yang akan meningkatkan tarif dagang bisa membuat arus perdagangan kita dengan AS melemah. Jelas ini akan mengancam surplus perdagangan Indonesia sehinga berakibat cadangan devisa yang menipis. Ini tentu mempersempit ruang moneter BI jika ingin melakukan interensi untuk menstabilkan Rupiah. Jika Rupiah melemah lagi, maka semakin kecil kemungkinan BI rate dapat diturunkan. Ini dapat menimbulkan situasi yang gamang untuk para pelaku pasar.

Setali tiga uang, yield SUN yang meningkat akan menambah beban bunga utang yang juga bisa mempersempit ruang fiskal pemerintah. Apalagi, wacana kenaikan PPN menjadi 12% (yang harapannya dapat memperluas ruang fiskal pemerintah) mendapat penolakan habis-habisan dari masyarakat sehingga berpeluang ditunda sampai 2026. Maka, jangan heran jika anggaran makan siang gratis (program yang sangat bergantung pada APBN) susut dari Rp15.000 ke Rp10.000 per porsi. Dan jangan kaget juga jika misal nanti ada berita soal program pemerintah lainnya yang kena diskon juga (program 3 juta rumah, misalnya).

Di sisi lain, ekonomi kita juga sedang dalam kondisi yang tidak bagus-bagus amat. Inflasi yang rendah di angka 1,7% memang sedikit banyak berada di jangkauan ekspektasi. Namun, dengan konsumsi rumah tangga yang stagnan, dan kepercayaan diri konsumen yang cenderung menurun semakin menyadarkan kita untuk tidak terlalu berharap banyak di beberapa bulan mendatang.

Jadi ya begitu, kita ada di situasi sulit saat ini. Jika Anda bisa melewati periode ini dengan tidak defisit saja itu sudah merupakan sebuah prestasi tersendiri. 😪

Exit mobile version